Friday, 3 March 2017

Membuat PCB dengan Software Kicad

Saya sedang belajar membuat PCB ceritanya. Saat masih kuliah, saya dikenalkan software yang namanya Altium oleh senior dan teman-teman saya. Jujur aja, kami pakai itu dengan crack, sebuah hal yang umum yang terjadi di kalangan saya dan teman-teman mengingat pakai Windows aja crack....

Saat ini saya juga sedang belajar membuat program. Menurut saya pribadi, ngoding itu susah banget. Banget. Banget. Banget. Trus saya inget saya pake software Altium bajakan, dan saya merasa ga enak aja yang buat software ini susah kali ya trus pada pake gratis gitu aja. Saya memutuskan untuk tidak beli software ini karena mahal banget, tapi tetap mencari alternatif untuk punya jalan yang lebih baik: cari software gratisannya.

Saya baca-baca di Internet dan menemukan dua alternatif yang populer: Eagle dan Kicad. Sepertinya Eagle lebih populer karena lebih sering disebut. Tapi, Eagle sebenernya berbayar, yang versi gratis fiturnya lebih sedikit dari yang bayar. Denger-denger, Kicad itu open source dan bener-bener gratis. Akhirnya saya pilih Kicad untuk Ubuntu saya.

Review

Sejauh ini, saya membuat PCB yang sederhana saja. Mentok-mentok ya paling jauh double layer dan bikin library sendiri. Jadi yang saya bisa ceritakan ya yang pernah saya kerjakan aja. Maaf ga bisa jauh-jauh karena memang masih belajar hehehe.

Belajar mengoperasikan Kicad tidak lah rumit untuk fitur-fitur dasar. Untuk installasi, silahkan ikuti yang ada disini: http://kicad-pcb.org/download/ubuntu/.

Untuk nyari tutorial, menurut saya yang sangat step-by-step dan lengkap ada disini: http://kicad.txplore.com/?p=96. Di link yang barusan, kita bisa pelajari gimana cara buat library sendiri. Silahkan diubek-ubek website itu, ada banyak yang bisa kita pelajarin.

Saya bingung review apa hehe. Intinya makenya gampang dan enak deh. Mirip-mirip Altium tapi fiturnya ga selengkap Altium.

Tips

Ini tips yang saya dapet dari teman/senior, internet, dan sebagainya. Hanya sedikit sih, tapi...ya sudahlah.

1. Mitos: bikin jalur jangan siku-siku

Katanya, jalur itu siku-siku (90 derajat) juga tidak apa-apa, asalkan bukan untuk operasional kecepatan transmisi tinggi sekali dan bukan untuk tegangan tinggi (ada yang bilang untuk diatas 1 kV). Jadi kayaknya kalo cuma buat arduino dengan tegangan paling-paling 5 dan 3.3v, gapapa lah bikin jalur siku-sikut. Walaupun, menurut saya, ambil best practice untuk menghindari jalur siku-siku adalah hal yang baik.

2. Ukuran jalur dan jarak antar jalur

Ini tergantung ngecing dimana. Kalo ngecing sendiri, saya lebih suka ukuran jalur 0.8-1 mm dan jarak antar jalur 0.8-1 mm juga. Kalo mesen ke multikarya atau spektra, mungkin bisa sampai setipis 0.3 mm jalurnya. Tapi untuk jalur power (VCC dan GND) saya lebih suka dilebarin, untuk VCC bisa 1.2 mm, untuk GND dijadikan ground plane.

3. Ground plane

Ground plane katanya bisa untuk mereduksi radiasi. Jadi sebaiknya dibuat ground plane, terutama untuk yang dekat dengan jalur analog dan yang berhubungan dengan komunikasi.


Ijo-ijo yang lebar sendiri itu jalur ground (gnd plane)


4. Bentuk lobang

Bentuk lobang menurut saya setidaknya memengaruhi dua hal: kemanan saat dibor dan disolder. Saran saya, sebaiknya bentuk lobang itu oval karena permukaannya lebih besar sehingga saat dibor lebih aman dan disolder lebih enak.
Bentuknya oval, x=2.8 mm, y=2 mm. Kebayang kan lebih enak soldernya dibanding bulet?
Dengan Kicad, kita pake software yang emang gratis. Jadi semoga lebih barokah hehe.

5. Mau lompatin jalur tapi ga double layer? Pake jumper aja.

jalur merah itu akan kecetak di front layer
Ada beberapa tips untuk pake jumper:
a. Jumper jangan panjang-panjang, semakin pendek semakin baik
b. Pakai jumper yang ada bungkus isolatornya (ada kulitnya) lebih baik daripada yang telanjang (bare cable)
c. Biar ga ganggu komponen di atasnya kasih aja solatip bening biar tetep nempel ke board
d. Ukuran lobang via dan diameternya disesuaikan biar disoldernya enak

Saturday, 11 February 2017

Review ESP8266 NodeMCU

Salah satu protokol komunikasi yang populer untuk IoT adalah dengan WiFi. Menurut saya, alasan dibalik kepopulerannya adalah karena murah, mudah ditemukan, dan lebih familiar dibanding dengan protokol lain (802.15.4 misalnya, walaupun dipakai untuk ZigBee dan 6loWPAN, tetap aja ga terlalu populer. Mahal. Di tokopedia ga nemu lagi).

Dulu saya pernah pakai ESP8266 yang model ESP-1, yang dihubungkan dengan mikrokontroler (ARM STM32 atau Arduino yang saya pakai) melalui SPI. Setelah saya ngobrol-ngobrol dengan teman saya, dia bilang di tokopedia udah banyak yang jual ESP8266 yang model NodeMCU. Oiya, NodeMCU sebenernya nama firmwarenya, bukan hardwarenya. Hardwarenya sih ESP8266 ESP-12E.
NodeMCU ESP8266 ESP-12, gambar dari Seedstudio.com

Dengan ESP model ini, kita bisa masukin kodingan langsung ke ESP karena udah ada downloadernya. RAM dan ROMnya juga lebih besar dari ESP-1, jadi lebih enak kalo mau make ESP tanpa model master-slave (tanpa mikrokontroler tambahan). ESP ini gampang dicari di Indonesia, di toko online banyak yang jual dengan harga 60 ribuan.

Memprogram ESP8266 ESP-12E NodeMCU

Firmware NodeMCU mengizinkan kita untuk memprogram dengan LUA script. Namun, jujur saja saya tidak familiar dengan LUA script, jadi saya memilih untuk mencoba dengan C++ (atau plain C) gaya Arduino.

Cara ngoding dengan Arduino IDE:
Pertama kali saya coba, saya menggunakan Arduino IDE yang diinstal board tambahan si ESP ini. Langkahnya ada di website Sparkfun. Di website sparkfun jelas caranya, jadi saya ga tulis di sini.

Cara ngoding yang lebih manusiawi: PlatformIO
Saya ga terlalu suka sama ArduinoIDE. Ga ada file explorernya, ga ada terminal, dsb. Makanya dulu saya males pake arduino, karena dulu ngoding ARM STM32 pake CooCox yang IDEnya menurut saya lebih enak dipakai.

Tampilan PlatformIO
Untunglah ada PlatformIO. PlatformIO ini sebenernya text editor Atom, yang ditambahkan tek-tek bengeknya Arduino. Kita juga ga perlu install board ESP8266 lagi kayak pake Arduino IDE. Dan ini salah satu fitur yang saya suka: bisa cari library dengan terminal (asal online ya, karena nyarinya via internet).

Apa yang saya suka dari PlatformIO? Dia punya fitur yang ada di Arduino IDE: serial monitor, board-board arduino yang mudah diinstall, dan lebih enak untuk bikin file configurasi untuk ngotak ngatik.

Dari 2 hari nyoba PlatformIO, ini yang saya dapet dari sedikit sumber untuk pakai PlatformIO:

Cara install library tambahan di PlatformIO
Misalnya kita mau ngoding sensor IR buat remote TV dan sejenisnya. Kita bisa buka terminal di PlatformIO (dengan Shift+alt+t) trus ketik:

pio lib search IR

IR itu nama yang kita mau cari. Bisa diganti-ganti, misal mau nyari buat DHT22, BMP85, dan sebagainya. Nanti akan keluar hasil pencarian kayak gini:


Kalau kita pake ESP8266, pilih yang nomor [1089 ]. Cara installnya dengan masukkin command:

pio lib install 1089

Dimana nomor 1089 itu adalah nomor dari librarynya. Selesai deh. Enak kan.

Ada file lain yang bisa kita lakuin: nambahin build flags gcc dengan mengedit file konfigurasi platformio.ini (ada di file explorer sebelah kiri tampilan PlatformIO). Kalau mau nambahin build flag -Os, tambahin aja di file platformio.ini:

build_flags= -Os

Apaan itu -Os? Dari man gcc, kita bisa baca kalo "-Os Optimize for size.". Ini penting untuk mengoptimasi hasil kompilasi dari gcc buat dimasukkin ke flash memorynya mikrokontroler [makin optimal (makin kecil), makin baik].

Ada lagi. Kalau mau bikin file .h dan .cpp sendiri, kita sebaiknya ngikutin struktur yang disarankan sama platformIO. Kita bisa baca di readme.txt yang ada di {projek kita}/lib/readme.txt:

The source code of each library should be placed in separate directory, like
"lib/private_lib/[here are source files]".

For example, see how can be organized `Foo` and `Bar` libraries:

|--lib
|  |--Bar
|  |  |--docs
|  |  |--examples
|  |  |--src
|  |     |- Bar.c
|  |     |- Bar.h
|  |--Foo
|  |  |- Foo.c
|  |  |- Foo.h
|  |- readme.txt --> THIS FILE
|- platformio.ini
|--src
   |- main.c

Then in `src/main.c` you should use:

#include <Foo.h>
#include <Bar.h>

// rest H/C/CPP code

Dengan ngikutin struktur ini, projek kita akan lebih rapih dan kalo mau maintenance pun lebih enak dibanding semua ada di satu folder.


Wednesday, 18 January 2017

Mengapa Memiliki Hobi itu Penting

"Hobinya apa?"

Pertanyaan yang seri ditanya saat masih sekolah. Jaman saya dulu sekolah, jawaban standar anak laki adalah "main bola". Hampir semua anak seumuran saya dulu suka main bola. Tapi tidak semua benar-benar hobi. Saya suka main bola, tapi saya tidak memasukkannya ke dalam daftar hobi saya.

"Trus, hobi itu apa?"

Menurut saya, hobi bisa dicirikan seperti ini. Kalau saya pusing karena masalah, saya ingin mainin/liat/lakuin itu, dan bisa bikin masalah itu sejenak dilupakan. Saya bisa bengong karena mikirin itu. Saya berani ngeluarin uang untuk itu. Nyari tau tentang hal itu secara random dan gak jelas. Hal-hal tersebut saya bisa liat di temen-temen saya dengan hobinya masing-masing. Artinya, kemungkinan ciri-ciri tersebut valid untuk menilai apakah seseorang hobi dengan sesuatu.

"Trus, kenapa penting? Ga semua hobi bikin pinter dan kaya, kan?"

Benar. Justru itu, hobi itu kita lakuin karena kita ga mikir apa untungnya buat kita. Kita lakuin itu karena, entah bagaimana, kita suka aja. No reason. at. all.

Manfaat pertama dari hobi itu bisa jadi pelepas stress. Ada yang hobi mancing ikan. Jongkok aja dipinggir empang sampe dapet ikan (kalo dapet). Tapi, hal itu membuat dia senang. Hidup kan ada aja yang bikin sulit dan stress, oleh karena itu pelarian itu penting. Hobi bisa jadi pelarian karena stress. Daripada "minum" biar ngilangin pikiran, mending main gitar ngeblues dengan backing track yang sesuai kondisi hati. Daripada marah ke orang, mending disalurin dengan latihan mukul samsak (bener ga sih tulisannya?) dengan teknik bela diri.

Manfaat kedua itu ngisi waktu. Anggap lah kita lagi libur 3 bulan. Trus ngapain? Main? Iya lah butuh main. Tapi hobi juga main. Pasang target yang jelas. Misal kalo hobi mancing, ingin seminggu dapet berapa ikan. Kalo yang suka musik, mungkin seminggu kulik berapa lagu. Yang suka olahraga, mungkin ada teknik yang ingin dikuasai atau ingin level staminanya ditingkatkan. Kalo tercapai, rasanya senang bukan main. Rasa senang sepertinya sangat dibutuhkan, karena apa? Karena senang rasanya (wtf?).

Manfaat ketiga itu nambah teman. Ada banyak banget komunitas hobi. Dulu ada gitaris.com buat yang main gitar. Untuk yang lain-lain juga ada banyak banget. Yang suka badminton, bola, apapun itu. Orang itu unik dan banyak banget. Seru loh bisa nambah temen apalagi orang-orang yang hebat yang kita bisa berteman dan belajar dari mereka. Rasanya seperti mengembara dan mencari sensei.

Manfaat keempat itu hobi bisa jadi identitas. Misalnya, si A anak basket, si B itu gamer, si C itu gitaris, si D itu jagoan silat, si E itu kutu buku, dan seterusnya. Identitas ini tentunya baik sebagai tanda pengenal. Hobi itu tidak semua orang bisa melakukannya, karena itu selain membanggakan, bisa jadi nempel sama diri kita.

Menurut saya, hobi tidak butuh bakat. Hobi butuh perasaan kita senang atau tidak. Mau nentuin hobi dengan tes bakat? Bullshit. Bukan maksud saya menyalahkan itu karena tidak akurat (karena saya ga tau persis akurat atau tidak), tapi perjalanan mencari hobi yang kita suka itu tidak kalah seru dari mnjalani hobi itu sendiri. Jadi, kalo belum tau hobinya apa, coba cari mulai sekarang hehe.

Monday, 12 December 2016

Gagal LPDP

Jumat 9 Desember 2016 pengumuman LPDP keluar. Websitenya tidak bisa dibuka, yang kemungkinan besar dikarenakan beban server tinggi. Akhirnya kebuka, dan saya tidak lolos seleksi wawancara LPDP.

Apa yang ada di perasaan saya? Mungkin bisa diwakilin sama Roronoa Zoro...


Berdarah-darah, tapi nahan haha. Saya langsung berusaha untuk mendapatkan jawaban dari pertanyaan saya yang mengusik: Kenapa saya ga lolos. Saya mencoba cara yang dijelaskan oleh blog agniswikono.wordpress.com mengenai permohonan informasi publik untuk menanyakan bagian apa yang kurang dari saya untuk segera diperbaiki. Namun belum dibalas karena baru 3 hari lalu saya mengajukan dan dalam 3 hari ini tanggal merah.

Memang, saya rasa saya kurang di banyak hal dan terlalu terburu-buru dalam mempersiapkan ini semua. Terburu-buru bukan merupakan hal yang baik karena akan kehilangan banyak hal dalam perjalanannya. Saya jadi ingat pesan Rayleigh ke Robin:



"You can't rush things. Just go forward one step at a time on your ship. May be we all tried to go too fast"

Apa yang saya perbuat hingga saya terlalu terburu-buru? Analisa saya:
  1. Terburu-buru bilang mau berkontribusi jauh untuk bangsa sebagai dosen, padahal belum pernah mengajar secara sukarela ke anak-anak yang kurang beruntung. Memang tidak diwajibkan, tapi menurut saya sangat baik jika kita bisa merasakan sulitnya belajar mereka dengan kondisi yang tidak mendukung sejak lahir. Dengan begitu, kematangan akan pemahaman proses menyampaikan ilmu dengan perasaan akan lebih baik.
  2. IELTS saya belum ada! Fatal. Saya daftar menggunakan TOEFL ITP. Boleh memang, tapi ini mengindikasikan saya dokumen aja belum siap.
  3. Saya belum mengontak apapun ke universitas/professor. Padahal, saya sudah banyak membaca tentang adab dan cara mengontak professor (buka profilnya, baca 3-4 paper terakhirnya, baca current projectnya, baru kontak). Tapi karena mayoritas bilang S2 ke Delft ga butuh kontak professor, saya mengurungkan niat. Padahal, ini bisa menjadi pendukung walau saya belum punya LoA.
  4. Mungkin saya belum memantaskan diri untuk S2.
Dari hal-hal tersebut, saya belajar banyak. Mungkin apa yang saya pelajari lebih banyak dibanding jika saya lolos. Alhamdulillah, segala sesuatu memang ada maksudnya. Dengan ini, saya harus merapihkan PR-PR yang saya sebut. Khusus untuk PR no. 4, ini paling teknis, karena akhirnya saya memutuskan untuk berlatih programming lebih banyak (hackerrank, latihan-latihan lain), baca-baca tutorials point untuk mendapatkan overview dari subject yang belum saya kuasai, dan mengerjakan soal-soal tes University of Tokyo dan TU Darmstadt (karena mereka memberi contoh soal). Semoga saya bisa menyelesaikan semua PR ini dengan baik dan dengan waktu yang efektif dan efisien.

12 Desember 2016

Bintang

Saturday, 3 December 2016

Tes IELTS di British Council Jakarta

Ini cerita tentang tes IELTS Academic di British Council Jakarta. Kenapa British Council? Karena dulu saya suka nonton video belajar bahasa Inggris dari British Council (alasan yang ga mendasar sama sekali...yasudahlah). Tes ini diambil 19 November 2016.

Biaya
Biayanya waktu itu 2.8 juta rupiah, bisa dibayar dengan transfer bank.

Pendaftaran
Klik klik aja kok. Cari aja di google "IELTS British Council Indonesia" nanti ada step-step gitu dikasih di websitenya British Council. Ikutin aja, mudah kok.

Suasana Tes
Saya dateng kepagian. Lokasi di Akmani Hotel (belakang mall Sarinah). Btw, lokasi ini pindah-pindah, artinya untuk ke depan belum tentu di hotel ini. Bisa cek aja di website British Council. Mulai masuk ruangan jam 8, dan harus nunggu sampai jam 9. Diam, tidak boleh bicara, ke toilet harus izin. Oiya, pensil, pulpen, penghapus, dan air minum disediakan jadi tidak perlu bawa sendiri (kalo mau jaga-jaga bawa aja sih kayaknya). KTP/Passpor wajib dibawa (tergantung daftar di Internet pake KTP/Passpor) dan juga fotokopian dokumen ini yang berwarna.

Selesai ujian tertulis, wawancara saya dapat jam 2.15 di hari yang sama. Saat wawancara saya ngga bisa inget konsep apa-apa, entah kenapa, jadi saya kayak orang ngobrol aja. Topiknya juga sulit buat saya jawab panjang lebar, mengenai "waking up early". Maksud saya, kayaknya biasa aja, ga ada yang spesial, jadi susah saya jelasin ini itu, ga ada topik di kepala saya.

Sarapan sangat penting, minum juga, tapi jangan terlalu banyak karena nanti sering ke kamar mandi, terlebih ruangannya dingin. Yang tidak terbiasa dingin seperti saya, bisa gunakan kaos lengan panjang agar lebih hangat.

Hasil Tes
Hasil tes 13 hari keluarnya, artinya saya karena tes tanggal 19 November, keluar hasil tanggal 2 Desember. Asiknya, hasil tes diantar ke rumah, jadi kita tidak perlu ambil langsung ke kantornya, dan ini gratis tanpa biaya tambahan.

//end of sesuatu yang umum
//start sesuatu yang personal

Persiapan saya
Saya belajar dari buku Cambridge Practice Tests for IELTS Series: Self-Study Student's Book dan Cambridge IELTS 11. Untuk writing, saya belajar dari IELTS buddy dan IELTS Simon. Biasanya, setelah mencoba menulis untuk bagian writing, saya cek ke grammarly.com untuk mengecek kesalahan grammar. Memang sih sangat terbatas, tapi lebih baik daripada tidak sama sekali.

Untuk terbiasa baca bahasa Inggris, saya baca The Jakarta Post, The Guardian, dan IEEE Spectrum. Untuk listening, saya dengerin BBC 6 Minute English dan juga nonton TEDx.

Saya latihan speaking dengan kakak saya, yang kebetulan sedang cuti melahirkan. Kadang juga saya berlatih dengan pacar saya, walaupun tidak sering. Saya tidak les IELTS sama sekali, dan biasanya saya belajar paling lama sehari 2 jam 30 menit. Umumnya paling hanya sejam, tapi benar-benar tiap hari.

Hasil yang saya dapat alhamdulillah di atas skor minimum yang diminta TU Delft, yaitu 7.5 (reading 8, listening 7.5, speaking 7.5, writing 7). Memang biasa saja nilainya, tapi saya cukup senang karena yang penting diperbolehkan untuk syarat administrasi pendaftaran universitas.

4 Desember 2016

Bintang

Thursday, 24 November 2016

Pengalaman Seleksi LPDP Batch 4 2016

Cerita sedikit dari saya mengenai pengalaman seleksi LPDP Batch 4 2016 dari mulai essay sampai wawancara. Sebenarnya, saat tulisan ini dibuat, pengumuman belum keluar apakah saya diterima atau tidak (mohon doanya supaya diterima ya hehe). Saya nulis ini untuk cerita aja, iseng kok hehe.

Persiapan 1: essay
LPDP minta 3 essay, yaitu essay kesuksesan terbesar, rencana studi, dan kontribusi untuk Indonesia. Saya beberapa kali revisi nulis semua essay ini. Mungkin ini bagian dari kebiasaan saya yang sering kali revisi berkali-kali kalau nulis, termasuk nulis skripsi. Tiga essay ini sudah ada panduannya di booklet beasiswa LPDP yang bisa diunduh di website LPDP.

Banyak yang bilang bahwa wawancara akan banyak ditanya dari essay yang dibuat. Oleh karena itu, saya serius mengerjakan essay ini dan minta tolong teman saya yang awardee beasiswa LPDP untuk review essay saya. Alhamdulillah, mereka baik sekali dan bersedia menolong saya. Saya minta tolong dua senior saya, Novian Habibie dari Fasilkom (awardee LPDP, saat saya minta review belum mulai sekolah) dan Alfan Presekal dari teknik komputer 2008 (lulusan Imperial College London). Semoga Allah membalas kebaikan mereka aamiin.

Persiapan 2: wawancara
Dari baca-baca blog orang lain dan dari kata teman saya, saya dapat simpulkan saya adalah kandidat yang lemah. Saya: 1. belum punya LoA, 2. Fresh Graduate. Namun dua kelemahan yang saya sebutkan beralasan, karena memang saat interview LPDP, proses admission kampus baru dimulai dan fresh graduate karena memang saya insya Allah (jika mampu) ingin menjadi dosen dan peneliti. Akhirnya, saya berpikir saya harus bisa menjelaskan dengan baik hal ini di wawancara.

Persiapan wawancara saya lakukan jauh-jauh hari. Hal pertama yang saya lakukan adalah baca-baca blog orang lain mengenai proses wawancara, seperti apa situasinya, atmosfirnya, dan seperti apa pertanyaannya. Dari hasil membaca blog itu, saya menyimpulkan pertanyaan di wawancara bertujuan utuk mencari kandidat yang memiliki alasan kuat untuk melanjutkan sekolah dan apa pengaruhnya jika kandidat tersebut melanjutkan sekolah dan pembangunan Indonesia.

Saya berlatih interview dengan kakak pertam saya dan juga teman saya yang sedang berjuang LPDP juga, Aldo Setiawan. Kakak saya sudah sering interview kerja, sering sekali, karena itu dia tau betul sikap yang baik, cara bertutur kata, struktur kalimat saat memperkenalkan diri, dan sebagainya. Dengan Aldo, saya dapat banyak masukan di bidang teknis seperti rencana tesis, karena memang bidang kami sama-sama teknik. Tentunya semua latihan ini dilaksanakan dengan bahasa Inggris.

Persiapan 3: LGD dan Essay
Essay: 30 menit, bahasa Inggris, tidak dibatasi jumlah kata
LGD: 25 menit, bahasa Inggris, tidak diberikan format khusus
Saya tidak melakukan persiapan khusus untuk bagian ini, karena saya waktunya habis untuk menulis essay dan mempersiapkan wawancara. Persiapan saya adalah:
  1. Saya baca koran The Jakarta Post setiap hari (online saja). 2 berita dari kolom today's paper dan 1 dari opinion.
  2. Dengerin TEDx dan BBC Learning English 6 minute English. Saya pernah dengar dari dosen bahasa Inggris saya waktu semester 2 bahwa jika ingin berbicara dengan baik, belajarlah jadi pendengar yang baik terlebih dahulu. Oleh karena itu, saya belajar mendengar juga tiap hari.

"Itu persiapannya. Gimana proses seleksinya?"

Saya beruntung dapat semua jadwal, mulai dari verifikasi dokumen hingga wawancara, di hari yang sama. Lokasinya waktu itu di STAN Bintaro. Alhamdulillah, tidak jauh dari rumah karena dari jaman SD juga saya sering lewat sini.

Sampai di sana, saya mengisi waktu luang dengan berkenalan dan ngobrol dengan orang-orang. Akhirnya saya dipanggil wawancara pukul 11.15.

Saya ditanya beberapa hal, seperti diminta memperkenalkan diri, ditanya mengenai kegiatan kuliah sewaktu S1, rencana tesis, cita-cita nanti, kontribusi ke masyarakat, dan sebagainya.

Seingat saya, saya diwawancara sekitar 25 menit. Itu relatif sebentar, karena banyak yang masuk duluan tapi saya keluar duluan. Hal ini membuat saya khawatir hingga sekarang. Saya khawatir interviewer tidak tertarik lalu menyudahi wawancara. Tapi ya sudahlah, sudah lewat, toh saya sudah berusaha terbaik yang saya bisa. Kalo gagal ya sudah, bukan rejeki saya hehe.

Essay pukul 15.25. Saya menggunakan pulpen, karena kalau pensil tulisan saya tidak terlihat, jadi saya pilih pulpen. Topik yang diberikan berupa teks yang diambil (sepertinya) dari koran. Tantangan disini adalah karena teks tersebut dalam bahasa Indonesia, namun essay kita dalam bahasa Inggris. Jadi tidak bisa nyolong-nyolong kosa kata yang khas dengan topik itu dari teks hehe. Karena essay selama 30 menit, saya menulis kurang lebih 200 kata. Kalau di IELTS task 2 kan 40 menit 250 kata, jadi saya asumsikan 200 kata untuk 30 menit di essay on the spot LPDP. Entahlah ini baik atau tidak. Semoga ya baik hehe.

LGD pukul 16.30. Topik juga dari teks berbahasa Indonesia. Jangan lupa, sebelum berbicara perkenalkan diri dulu dengan menyebut nama dan peran yang diajukan. Sebaiknya kartu perserta LPDP diletakkan di meja agar jika teman kita ada yang lupa sama nama kita, bisa ingat. Saya juga waktu itu mencatat poin-poin penting dari tiap teman-teman di kelompok. Lalu saya buat kotak yang isinya hasil diskusi. Per poin waktu itu saya buatnya. Lalu kertas ini juga saya beri nama. Sebenarnya saya iseng aja nulis nama, tapi kayaknya berguna karena ternyata kertasnya diminta untuk dikumpulkan oleh penilai.

Ya begitulah ceritanya. Entah dapet atau tidak sudah ditangan panitia, hanya bantuan Allah yang bisa menolong karena proses ujian seleksi sudah selesai. Mohon doanya ya hehe.

UPDATE:

saya ga dapet hehe

24 November 2016


Bintang

Saturday, 22 October 2016

Musisi Indonesia dengan Kualitas Internasional - Dewa Budjana

Belum banyak tulisan blog yang bahas manusia ini. Menurut saya, musisi Indonesia hebat-hebat banget. Serius, banget. Kenapa ga kedengeran? Karena jarang muncul di TV. Kenapa jarang muncul di TV? Saya kurang tau, bukan orang media. Namun, saya berpendapat karena musik mereka gak ngepop, sehingga ga nguntungin.

Dari banyak musisi Indonesia yang ngeri-ngeri jagonya (sebut saja Indra Lesmana, Dwiki Dharmawan, Ginda Bestari, Rama Satria Claproth, Joey Alexander, Tohpati, Balawan, dan terus ga habis-habis), saya mau ngebahas Dewa Budjana. Alasannya sederhana: karena saya suka musiknya.

Dia sering muncul di TV sama band GIGI. Di GIGI, ga terlalu berasa mainnya budjana karena mungkin bukan band solo dia, dan dia ga bisa seenaknya bikin lagu. Di album solonya, baru keliatan ngerinya dimana. Saya pertama kali tau Budjana di album Home, saat itu saya masih kelas 2 SMP (sekitar 2008).

Album Budjana udah beberapa terakhir selalu rekaman di Amerika ditemenin sama musisi-musisi hebat. Contoh, di album Home, drummernya itu Peter Erskine (drummer Jazz dan professor musik di University of Southern California), Dave Carpenter (Bassist), dan banyak musisi Indonesia yang bagus banget gabung di Album ini.

Album kedua yang saya dengerin itu Surya Namaskar. Jadi gini, saya liat di Youtube Jeff Beck live at Ronnie Scott's, drummernya keren banget, namanya Vinnie Colaiuta, dia macem-macem banget gaya mainnya, mulai dari main bareng sama Frank Zappa, Eric Clapton, Jeff Beck, Chick Corea, Herbie Hancock, sampe Megadeth. Nah ini drummernya Budjana di album Surya Namaskar. Di album ini drumnya rame banget, keren deh.

Album ketiga yang saya denger itu album Hasta Karma. Ini keren banget, favorit saya bisa saya bilang. Ada kidungnya (nyanyian tradisional) yang saya suka, walau temen-temen saya bilang suaranya serem. Yang nyanyi kidung itu neneknya Budjana. Drummernya juga gila banget. Antonio Sanchez yang ngiringin (dia drummernya Pat Metheny, Gary Burton, John Pattituci). Antonio Sanchez lulus dari Berklee College of Music dengan predikat Magna Cum Laude. Trus yang keren, ada vibraphone di sini, yang mainin Joe Locke.

Yang paling baru, Zentuary. Ini gila isinya. Musisi luarnya ada Jack DeJohnette, Gary Husband (yang main keyboardnya John McLaughlin), Tony Levin, Guthrie Govan (yang main gitar gausah dijelasin ini siapa), dan beberapa yang main sax yang saya ga tau itu siapa. Album ini juga keren banget. Ah susah lah jelasinnya, pokoknya keren haha.

Kalo lagi manggung di Indonesia, Budjana ga main sama musisi-musisi luar yang udah disebutin tadi. Tapi ada bandnya lagi, yang isinya juga keren-keren banget. Drummernya biasanya Echa Soemantri, yang main keyboard Martin Siahaan, yang main bass Syahdu Rasjidi, dan yang main suling Bang Saat Syah. Saya pernah nonton langsung dan wew, kepikiran sampe rumah dan beberapa hari.

Kalo kata orang "cintailah produk dalam negeri", menurut saya jangan maksa. Kalo bagus emang beneran disukain. Ini buktinya kok, dan masih banyak lagi yang pantas banget disukain bukan karena alasan "karena gue cinta produk lokal", karena emang produk lokal itu banyak yang bagus. Merek gitar dan efek aja ada yang lokal bagus banget, contohnya Regatta Guitar dan Revolt. Apalagi hal-hal lain, banyak deh.